Empat tahun yang lalu adalah ‘wake up call’ yang sangat menyakitkan untuk saya. Enam orang sahabat saya terkena penyakit kritis pada kurun waktu yang bersamaan. Saya sedih dan kalut. Terbersit pemikiran, bagaimana jika kejadian itu menimpa saya? Tidak ada yang bisa memberi jaminan 100 persen kita bisa lolos dari risiko kehidupan (sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap, meninggal, dan tua). Saya pun mulai mencari produk asuransi yang dapat menjawab kebutuhan saya.

Selayaknya konsumen yang sedang mencari produk yang tepat dan berguna untuk dirinya, saya pun mulai menghubungi lima perusahaan asuransi terbesar di Indonesia mau pun dunia. Pilihan akhirnya jatuh pada Allianz Life Indonesia, karena hanya Allianz lah yang dapat memberikan proteksi yang saya butuhkan dengan nilai pertanggungan yang jauh lebih besar dibandingkan perusahaan lainnya.

Saya mulai menghubungi perusahaan ini melalui kenalan saya, ada 2 agen waktu itu yang saya kenal. Akhirnya saya membeli polis saya di Allianz Life Indonesia melalui salah satu teman saya yang dulu saya pernah bekerja sama di bisnis sebelumnya, di sinilah saya mengenal perusahaan asuransi yang bernama Allianz. Pada saat proses pembuatan polis, tanpa bermaksud untuk mengetahui lebih jauh, saya bertanya kepada teman saya, seperti apa sih bisnis asuransi itu? Dengan singkat saya dipresentasikan, dan saat itu terfikir utk memberikan informasi bisnis ini kepada salah satu sahabat yang setahu saya sedang mencari pekerjaan yang waktunya fleksibel.

Beberapa saat kemudian, saya sempat melihat lagi presentasi bisnis nya dengan lebih jelas dan detil. Sejak saat itu, pikiran saya seperti tersihir dan tanpa saya sadari, tanpa saya inginkan, saya terus menerus memikirkan marketing plan bisnis Allianz. Saya merasa tidak memikirkan, tapi faktanya selalu terfikirkan. Saya berusaha menepis jika marketing plan itu menyeruak di sela sela benak saya. Peristiwa ini terus saya alami selama berbulan bulan.
Saya mulai terganggu dengan intensitas marketing plan yang terus membayangi alam pikiran. Saya bagikan pengalaman ini kepada mentor-mentor dalam kajian spiritual untuk sekedar meminta opini. Dan jawabannya sungguh aneh, semua mengatakan dan mengarahkan saya untuk menjalani bisnis asuransi di Allianz. Saya masih berusaha berdalih sudah memiliki bisnis yang saat itu saya jalani. Respons mereka tidak bergeming, saya diarahkan untuk menjalankan bisnis asuransi di Allianz. Titik.

Di Mei tahun 2012, saya menemui salah satu mentor saya di bisnis networking yang pernah aktif saya tekuni, tujuannya hanya untuk menceritakan apa yang telah saya dengar tentang bisnis asuransi. Di luar dugaaan saya, mentor saya ini malah memuji marketing plan bisnis asuransi Allianz dan mendukung saya untuk menjalankannya.

Akhirnya di bulan yang sama saya mengikuti ujian AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) dan beliau, mentor saya itu, adalah nasabah saya yang pertama.  Saya melakukan beberapa pendekatan ke beberapa sahabat dan keluarga dan berbagi cerita ke mereka, betapa pentingnya jaman sekarang kita memiliki proteksi penyakit kritis yang cukup.. Saya ceritakan beberapa sahabat saya yang terkena penyakit tersebut seperti kanker dan serangan jantung, dan mereka tidak memiliki cukup perlindungan dari asuransi yang mengakibatkan keuangan keluarga mereka morat marit.

Saya tidak ingin jika resiko hidup itu terjadi ke saya, sahabat-sahabat dan keluarga, di mana kita tidak punya dana untuk berobat di rumah sakit yang terbaik dan ujungnya hanya merepotkan keluarga kita sendiri. Belajar dari pengalaman sahabat-sahabat saya yang terkena penyakit kritis seperti kanker, serangan jantung, gagal ginjal dan sebagainya, si sakit dan keluarganya harus menanggung beban yang sangat berat, apalagi jika diperburuk dengan ketiadaan dana, maka hidup akan terasa lebih berat lagi.

Hanya dengan bercerita apa yang saya rasakan, beberapa sahabat saya dan keluarga akhirnya tergerak untuk membeli polis asuransi kepada saya. Selama satu setengah bulan, saya berbagi cerita ini dengan mengalir saja, tanpa pengetahuan dan ilmu tentang asuransi. Setelah mendapat beberapa nasabah dari kalangan sahabat dan keluarga, saya berhenti melakukan kegiatannya.

Menjelang akhir tahun timbul masalah keuangan di keluarga saya. Saya ingin membantu mencari tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga sekaligus mendukung suami agar penghasilan keluarga lebih stabil. Saya mulai terpikir untuk melakukan lagi kegiatan di bisnis asuransi.
Saya sempat bimbang karena saat itu saya sedang aktif di bisnis network marketing di sebuah perusahaan MLM yang serius saya jalankan. Di bisnis tersebut, saya sudah memiliki tim yang aktif di dalamnya. Akhirnya saya memutuskan untuk meminta pendapat pada salah satu leader dalam team saya yang saya percaya. Dan lagi lagi, jawaban dia sama dengan respons para mentor. Leader saya itu dengan sepenuh hati mendukung rencana saya menjalankan bisnis asuransi secara total.

Saya memutuskan akan serius menekuni bisnis ini untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk keluarga dan untuk membantu masyarakat memiliki proteksi keuangan mereka. Saya tekan pedal gas sepenuhnya, bekerja keras dengan fokus dan hukum alam pun terjadi. Siapa menabur, maka dia menuai. Saya memetik banyak buah manis dari hasil kerja keras saya. Di antaranya sebagai Top Business Manager peringkat 1 se-Indonesia di tahun 2013. Dan menyusul beberapa penghargaan lainnya seperti pencapaian MDRT, Premier, BP Premier serta sederet challenge lainnya.

Sungguh saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Semesta Alam dan para pembimbing saya yang sudah memberikan berbagai kemudahan untuk saya berkarya di bisnis yang baru.

Setahun menjalankan bisnis ini, saya cukup banyak melihat dan mengalami sendiri dinamika di sekitar yang tidak selalu menyenangkan. Saya mengalami friksi yang cukup intens dengan leader karena hal-hal yang saya sendiri tidak tahu persis sebabnya. Saya sedih dan prihatin dengan kondisi ini tapi karena saya sudah bertekad terjun di bisnis ini untuk menopang keuangan keluarga dan meraih situasi finansial masa depan yang gemilang, saya memutuskan untuk terus fokus dan bekerja keras. Saya tidak menanggapi gunjingan yang dialamatkan ke saya secara tidak langsung.

Wujud fokus seratus persen di bisnis ini adalah dengan menyelamatkan beberapa leader di grup saya dan kerja sama kami sangat baik sejauh ini. Sebelum keadaan memburuk akibat dinamika komunikasi yang sering menimbulkan gesekan, saya membuat komunitas sendiri bernama Gemah Ripah. Harapan saya, Gemah Ripah adalah wadah yang sehat, santun, akrab, saling dukung, saling asah asih asuh bagi seluruh tim saya. Gemah Ripah adalah harapan saya untuk mewujudkan keberlimpahan dan kemakmuran bersama.

Saya mulai merancang silabus pelatihan sendiri dan menulis buku pegangan bagi tim saya untuk menjadi referensi di Kelas Akademi Gemah Ripah yang diselenggarakan secara rutin seminggu satu kali. Kelas Akademi ini adalah wadah bagi tim saya untuk menjadi pebisnis asuransi yang andal, mumpuni, dan berkesadaran dengan membangun bisnis yang solid.

Semua ini terjadi dan dimungkinkan berkat dukungan dari keluarga, para mitra bisnis, sahabat sahabat sejati, dan tentunya yang sangat berperan dalam perjalanan saya yang tidak mudah dan penuh liku di tahun 2014  adalah pembimbing saya Shangkala Tenang Putri, suami saya Franky Rumamby dan anak anak yang sangat kami cintai, Jacinda, Kyra, dan bungsu kami Jonah. Dengan cinta dan dukungan meraka lah, perjalanan saya membangun bisnis ini bersama tim di Gemah Ripah dapat menghasilkan presestasi yang selalu saya syukuri. Saya tak pernah menduga kegelisahan saya beberapa tahun yang lalu adalah berkah tersembunyi yang telah disiapkan oleh Semesta dan Kitab Kehidupan untuk saya.

Akhir kata, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Semesta Alam, Cahaya di atas Cahaya, dan semua para pembimbing yang telah memberikan saya kesempatan untuk dapat berkarya dan dapat mengalami semua pengalaman yang membuat diri saya lebih kuat dan lebih mensyukuri atas kehidupan yang sudah diberikan kepada saya.

Selamat berkarya sambil bekerja, sampai pada tujuan yg diinginkan dan nikmati dengan rasa bersyukur setiap saat di berbagai macam realitas hidup ini.

Salam Gemah Ripah “Makmur, Sejahtera Bersama”

Risa Elga Gozali